Pernahkah kamu berpikir apa yang membedakan coaching Asia dan Eropa? Memang dalam dunia badminton, Asia sangat mendominasi namun belakangan ini Eropa juga sudah mengalami kenaikan selain Denmark. Namun artikel ini bukan membandingkan siapa yang lebih hebat tapi apa sih yang membedakan coaching mereka? Yuk kita bahas lengkap disini!
Filosofi Badminton Coaching Asia vs Eropa
Ketika membicarakan pendekatan pelatihan bulutangkis di Asia dan Eropa, kita sebenarnya tidak berbicara siapa lebih baik atau jelek, melainkan bagaimana mereka berbeda dalam cara berpikir dan bagaimana hal itu tercermin saat pertandingan.
1. Asia
Di wilayah Asia seperti Malaysia, Indonesia, China, filosofi pelatihannya sering menekankan pada:
- Latihan kuantitas besar, artinya jam latihan yang panjang dan volume tinggi.
- Fokus besar pada stamina, fisik, dan “menahan rasa sakit” dalam latihan.
- Tujuan jangka panjang membangun kapasitas tubuh agar tahan pertandingan yang keras, rally panjang, tempo tinggi.
- Budaya disiplin yang kuat; kadang pelatih lebih “mengatur” banyak hal dan pemain mengikuti skema intensif.
2. Eropa
Sedangkan di Eropa, misalnya Denmark sedikit berbeda:
- Latihan dengan jam yang lebih pendek, tapi dengan fokus pada kualitas dan intensitas.
- Interval latihan yang lebih cepat, misalnya hanya 3 menit berturut-turut untuk memastikan intensitas tinggi.
- Lebih banyak penekanan pada taktik, decision making, fleksibilitas, dan “smart training” daripada hanya “latih sebanyak mungkin”. Sebagai contoh, pelatih Eropa berbicara bahwa pemain Eropa punya lebih banyak kontrol terhadap sesi mereka.
- Filosofi “latihan pintar” agar pemain dapat mengambil keputusan sendiri, memahami taktik, bukan hanya menuruti pola.
Latihan : Asia vs Eropa
Setelah memahami filosofi masing-masing, mari kita lanjut ke sesi latihan yang biasa diterapkan kepada para atlet.
1. Asia
- Contohnya Indonesia yang menerapkan latihan di sesi pagi dan sore, 3 jam setiap sesi dan libur di hari minggu.
- Interval latihan bisa sangat panjang, 10, 15 atau 20 menit berturut-turut, untuk mensimulasikan stamina pertandingan.
- Latihan kombinasi 2 lawan 1 atau 3 lawan 2 dalam ganda untuk meningkatkan kondisi fisik dan adaptasi situasi.
- Sering latihan repetitif untuk teknik dasar + conditioning misalnya footwork, smash, clearing berulang kali, dengan intensitas tinggi.
- Fokus besar pada “menjadi kuat” agar mampu tahan rally, mampu recover saat kelelahan.
2. Eropa
- Contoh: di Denmark, sesi lebih pendek, “maksimal” 1,5-2 jam per sesi.
- Interval latihan sering hanya hingga 3 menit berturut-turut, lalu istirahat atau berubah aktivitas agar tetap intensitas tinggi.
- Latihan lebih banyak pada kualitas: teknik presisi, decision making, footwork efisien, adaptasi taktis.
- Contoh pemain Eropa seperti Viktor Axelsen (Denmark) dikenal karena gerakan efisien, pengambilan keputusan cepat, bukan semata stamina super panjang.
- Pelatih Eropa juga lebih mendorong pemain untuk “memiliki” latihan mereka sendiri, bukan hanya mengikuti instruksi misalnya pelatih Denmark berbicara tentang “we work longer on skills to keep juniors motivated”.
Fokus Latihan & Pertandingan
Latihan tentu tujuannya agar saat pertandingan, pemain siap secara fisik, taktis, mental. Namun fokusnya berbeda antara Asia dan Eropa.
1. Asia
- Karena volume latihan besar dan stamina ditaruh tinggi, pemain Asia cenderung kuat di rally panjang, mampu bertahan ketika lawan mulai kelelahan.
- Teknik yang sangat terasah, terutama smash keras, clear belakang, drive cepat — karena latihan banyak repetisi.
- Mental “berjuang”, tidak mudah menyerah ketika lawan memimpin, stamina yang dibangun bisa membantu comeback.
- Namun, karena beban latihan fisik sering besar, kadang adaptasi taktis atau kecerdasan pertandingan kurang ditonjolkan.
2. Eropa
- Pemain Eropa cenderung lebih cepat dalam membuat keputusan, “membaca permainan” lawan, dan memilih momen serangan yang tepat. Misalnya Viktor Axelsen punya pemilihan tembakan yang sangat cermat.
- Karena durasi latihan lebih terkendali, pemain bisa lebih “segar”, sehingga ketika bertanding bisa bermain dengan intensitas maksimal.
- Teknik dan taktik yang efisien: footwork cepat, posisi tepat, pengaturan rally yang pintar, bukan hanya “kuat pukulan”.
- Tantangannya: ketika pertandingan sangat panjang atau ketika fisik lawan Asia menyerang dengan volume tinggi, kadang stamina menjadi faktor.
Contoh Latihan Asia vs Eropa
Berikut contoh konkret sesi latihan yang bisa diterapkan di masing-masing gaya.
1. Asia
- Sesi endurance: Latihan footwork di lap panjang selama ±15–20 menit nonstop, misalnya clearing back-to-back, smash, recovery cepat.
- Drill 2 vs 1 atau 3 vs 2 (untuk ganda) selama 10–15 menit terus tanpa banyak istirahat, supaya pemain terbiasa dengan overload fisik + skenario pertandingan.
- Latihan repetitif teknik dasar: drive, drop, net play dilakukan dalam set besar jumlah repetisi, lalu full rally dengan fokus menahan kelelahan.
- Conditioning ekstra: gym + plyometric + stamina lari jarak pendek/menengah untuk membangun kapasitas tubuh.
2. Eropa
- Sesi intensitas tinggi tapi durasi pendek: misalnya interval 3 menit rally cepat (2vs2), lalu 1-2 menit istirahat, ulang 6-8 set. Mengacu pada pendekatan interval pendek Eropa.
- Drill taktis: latihan pilihan shot, decision making, footwork perubahan arah cepat. Misalnya pemain hanya boleh memilih dua opsi shot berdasarkan posisi lawan, lalu trainer memberi tantangan kecepatan.
- Latihan simulasi pertandingan dengan tekanan mental: contoh, pemain harus memenangkan rally dalam kondisi fatigue, tapi latihan fisik bukan overload besar, melainkan “tertarik” secara mental.
- Latihan refleksi & video: Eropa lebih banyak mengintegrasikan analisis pertandingan, pemain diajak memikirkan “kenapa” mereka memilih shot, bukan hanya “apa” yang dipukul.
Sudah Tau Perbedaannya?
Secara historis, negara Eropa yang mencatatkan prestasi gemilang sejauh ini adalah Denmark. Hal ini terbukti dengan atlet-atlet mereka seperti Viktor Axelsen, Anders Antonsen, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen, Peter Gade dan lain-lain. Tapi tidak dipungkiri juga, pemain Eropa dari negara lain juga mulai menunjukkan peningkatan yang baik seperti Alex Lanier (Prancis), Christo Popov (Prancis). Toma Junior Popov (Prancis).
Tapi memang belum secara merata untuk negara Eropa, sedangkan Asia terus memunculkan bibit baru di setiap sektornya contohnya China.
Jadi apa yang membuat Asia lebih dominan di banding Eropa? Menurut Admindo pribadi dari segi latihan itu sudah pasti, namun ada faktor yang kita tidak bisa nilai. Sesederhana Eropa dominan di sepak bola, sedangkan Asia rajanya badminton. Menurut Admindo ya sesimple itu dan tidak tau kenapa Asia selalu spesial terkait badminton. “Seakan-akan” seperti badminton memang olahraga Asia. Tapi ini menurut Admindo pribadi, kamu boleh sharing pendapat kamu!
Fun fact, kamu tahu tidak bahwa pemain sekelas Viktor Axelsen saja pernah dilatih oleh pelatih China. Menurut Admindo ini menjadi salah satu faktor, mengapa Viktor Axelsen belajar bahasa Mandarin.
Menurut Admindo pemain Eropa kebanyakan bermain “rapi” yang artinya terlalu textbook. Berbeda dengan pemain Asia yang menurut Admindo sering menambahkan insting saat bermain.
Namun dibalik itu ada sebuah kesamaan, bahwa pemain Eropa dan Asia memilih level turnamen BWF yang akan diikuti khususnya pemain peringkat dunia.
Menarik bukan? Admindo menulis artikel ini menggunakan referensi dari Victor. Kamu bisa membaca artikel Badmindo lainnya dan menemukan berbagai artikel menarik seperti rekomendasi peralatan badminton, cara smash badminton dan masih banyak lagi!
FAQ
Tidak selalu. Sistem Asia unggul dalam stamina dan volume, tetapi bukan berarti otomatis menang. Jika pemain Eropa punya kesiapan taktis, efisiensi gerakan, dan stamina yang cukup — maka mereka bisa sangat kompetitif.
Sulit digeneralisasi karena banyak faktor: budaya, investasi, pemain individu, pelatih. Meskipun Asia memiliki dominasi historis di bulutangkis, Eropa (khususnya Denmark) juga punya prestasi besar dan terus mengejar. Contoh Viktor Axelsen sebagai pemain tunggal top dunia.
Bisa jadi risiko jika tidak diatur dengan baik (bebannya terus-menerus tanpa recovery cukup). Maka penting sekali ada manajemen latihan, istirahat, recovery, agar volume besar tidak menjadi kontra-produktif.


Leave a Reply